Minggu, 27 Maret 2016

Obrolan Singkat

Karya : Ochistiar

15 Feb at 13.52
***Rak Sepatu start a new conversation with you***

“Kamu percaya takdir?”

“Eh?”

“Kalau apapun yang akan kita lewati dalam hidup ini sudah diatur..”

“Percaya, tapi bukan berarti kita tidak bisa memilih. Adakalanya takdir yang memilih kita, tapi ada masanya juga kita yang memilih takdir.”

“Pilihan. Masalahnya ada disana, pilihan hidup itu tidak seperti soal pilihan ganda yang sekali memilih langsung diketahui jawabannya. Pilihan hidup itu seperti percabangan yang punya anak cabang dan cucu cabang lainnya yang mampu memutar-mutar kita ke negeri entah berantah. Mungkin kalau kita memiliki semuanya dan tidak harus memilih ceritanya akan jadi lebih mudah.”

“Dari sekian banyak bintang di langit kita juga tidak bisa memetik semuanya bukan?  Kita hanya memiliki dua tangan. Untuk memetiknya saja sudah menguras tenaga, entah bagaimana cara merangkulnya. Manusia diharuskan memilih karena keterbatasannya. Manusia tidaklah sempurna hingga bisa memiliki segalanya. Lagipula, memiliki segalanya tidak menjamin kebahagiaan seseorang.”

“Kamu salah. Kalau manusia memiliki segalanya tentu manusia juga memiliki kebahagiaan. Segalanya. Termasuk kebahagiaan.”

“Selain tidak sempurna manusia memiliki sifat yang lain, serakah. Alih-alih berhasil membawa pulang semua bintang di langit, manusia justru tidak akan membawa apapun. Karena dia hanya sibuk berlari kesana kemari untuk menarik semua bintang sampai akhirnya terlalu lelah bahkan memetik satu bintangpun tidak mampu. Begitulah orang yang serakah, pada akhirnya justru tidak mendapatkan apa-apa.”

“Aku suka langit malam yang dipenuhi kerlip bintang ditemani cahaya bulan yang lembut dengan kamu disisiku tentunya dan aku tidak suka siang yang terik terlebih tanpa kamu. Aku sudah memilih bukan? Aku manusia yang tidak sempurna dan mencoba tidak serakah agar setidaknya aku tidak kehilangan satu bintang yang tidak ada duanya.”

“Tujuan. Asal kamu selalu mengingat tujuanmu, apapun yang kamu pilih akan menuntunmu pada tujuan. Seperti halnya kata orang, ada beribu jalan menuju Roma. Lagipula aku percaya takdir bukan hanya satu garis lurus, melainkan suatu ruang yang tersusun dari beribu garis. Sebab itu seringkali hikmah yang tersembunyi baru bisa terlihat ketika manusia itu melihat cerita secara keseluruhan.”

“Tujuan? Aku ingin jadi pembisnis. Supaya aku bisa leluasa menghabiskan waktu dengan keluarga.”

15 Feb at 14.09
***Fiksi Mini left the chat***


“Bukannya waktu untuk keluarga jadi lebih sedikit ya, jam kerja yang ga pasti, sering keluar kota, membangun relasi, juga ini-itu lainnya. Belum waktu buat nge-game-nya.”, mataku meninggalkan layar laptop, melanjutkan diskusi pikiran dengan John C. Maxwell, membahas bagaimana cara membangun relationship dengan manusia yang lain.

                  Harus kuaiku semuanya telah berbedaaa #ehmalahnyanyilagunyaRaisa, aku memang kurang bisa berbasa-basi dengan manusia lain. Ketika aku menyukai sesuatu maka aku akan bilang menyukainya, begitupun sebaliknya. Sederhana. Lagipula mengapa yang sederhana harus dibuat rumit? Masih tidak mengerti saja, untuk apa menunjukan apa yang tidak ingin kita tunjukan? Untuk apa mengatakan sesuatu secara cuma-cuma, sekedar menyenangkan hati orang lain katanya. Apakah kata-kata yang tidak tulus itu terdengar menyenangkan?

“Oke-oke, memang kamu pengennya aku gimana?”
 Sedikit menoleh, tanpa meninggalkan John C. Maxwell sendirian, “Kenapa tanya aku? Itu impianmu, kamu bebas menentukan apa yang kamu ingin dalam hidup. Aku tidak akan membuatmu berhenti. Kamu juga jangan membuat aku berhenti”.

“Memang apa impianmu?”

“Makan siomay Kang Cepot sekarang!”, dengan semangat kumasukan buku-bukuku kedalam tas ransel coklat kulit yang sedari tadi terkapar di lantai samping kursi Raka.

“Impianmu sederhana banget, Fi.”

“Semua yang besar dimulai dari sesuatu yang sederhana. Lagian aku udah 3 jam nungguin kamu nge-game. Gimana aku ga kelaperan coba”, kudorong badan Raka sedikit supaya lebih cepat meninggalkan ruangan.

“Itu kamu paham, kalo nunggu itu ga enak..”, gumam Raka.
              Langkahku terhenti. Aku menoleh pada sahabat di sampingku. Aku tahu pasti, menunggu itu memang tidak menyenangkan. Oleh sebab itu aku tidak pernah datang lebih awal, karena aku tidak ingin menunggu, sebisa mungkin aku datang tepat pada waktunya, sederhana. Ada potongan sajak tentang menunggu milik Tere Liye yang aku suka..


“ Bukankah,
  banyak yang berharap jawaban dari seseorang?
  yang sayangnya, yang diharapkan bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya.

  Bukankah,
  banyak yang menanti penjelasan dari seseorang?
  yang sayangnya, yang dinanti bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa.

  Bukankah,
  banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang
  yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji”





--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Finally bisa nge-post lanjutan fiksi mini yang udah kapan taun itu ekekeke :v

Ps : Rencananya bagian awal mau dibikin ala-ala Yahoo Messenger gitu. Tapi ternyata aku udah lupa notif awal dan akhir chatting di Ym! kayak apa hehehe. Dulu sebelum aplikasi chat merajalela kayak sekarang, aku sering banget pake Ym! buat ngobrol sama temen-temen. Bisa chat personal, bisa juga chat rame-rame. Kangen Ym!-an wkwkw


Jumat, 22 Januari 2016

Cita-cita

      Waktu kecil aku suka banget sama kartun Mickey Mouse. Hampir semua barang yang aku pakai ada gambar Mickey-nya. Mulai dari tas sekolah, sandal, kaos kaki, gelas, piring, sendok, buku gambar, dll, semua bergambar Mickey Mouse. Tetapi, cita-cita pertamaku justru punya rumah yang ga ada tikusnya. Ya, dulu aku penyuka Mickey Mouse yang takut tikus.
      Begitu udah bisa baca, aku pengen jadi Princess Aurora. Princess Aurora itu Princess favoritku, menurutku dia yang paling keren. Dulu, aku kira jadi Princess itu keren, keren banget. Bajunya lucu-lucu, roknya kayak gelembung besar gitu, bagus. Kalau sekarang diinget-inget lagi, apa asiknya jadi Princess yang gara-gara ketusuk jarum bisa tidur selamanya, yang cuma bisa bangun kalo Pangeran dateng. Setelah bangun pun, ceritanya langsung berhenti. Bahagia selamanya, katanya. Padahal akhir cerita itu kan suatu awal yang baru buat Aurora dan pangeran. Fyi, selamanya itu lama banget loh. Yakin bahagia selamanya? Yakin ga pernah rebutan ice cream chocolate hingga tetes terakhir? #oposihyan
      Begitu masuk SD, aku pengen jadi dokter. Cita-cita yang mainstream banget buat anak Sekolah Dasar hahahaha. Bahkan aku sampai ikut jadi dokter kecil di sekolah. Keliatannya jadi dokter itu keren banget. Kata guru pas SD, dokter bisa menolong banyak orang. Tian-yang-masih-percaya–apa-aja-kata-bu-guru pun setuju. Kalau sekarang diinget-inget lagi, dokter itu berat banget loh kerjanya. Setiap hari ketemu orang-orang sakit, kalo gakuat mental tiap hari bakal sedih-sedih karena liat berbagai macam pemandangan menyedihkan. Bukan cuma tentang pasien, tapi juga keluarga pasien dan temen pasien yang sedih karena orang kesayangannya sakit. Jujur, aku ga bisa, aku ga suka liat orang sedih. Aku pengen bikin mereka dari awal udah merasa senang, aku pengen, sebisa mungkin mereka jangan pernah merasa sedih #pengennyasihgituuuu. Pokoknya hebat banget lah orang yang udah bersedia mengabdi untuk jadi dokter, salut!  
      Begitu masuk SMP, aku pengen jadi pengusaha. Jujur, jujur banget nih ya. Pertama kali pengen jadi pengusaha itu gara-gara kalo di sinetron kerjaannya pengusaha cuma tandatangan doang. Tetapi, setelah dipikir-pikir lagi, kayaknya asik bisa bermanfaat buat orang lain. Bisa membuka lapangan kerja buat orang lain, juga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat buat masyarakat luas. Keren. Jadi pengusaha keren banget. Nah, untuk mendukung cita-citaku jadi pengusaha, aku mulai buka usaha bikin wadah tempat alat tulis di meja belajar dari kaleng roko*. Wadahnya dibungkus kain flanel yang dihias tulisan juga ornamen-ornamen lain. Warna dasar dan hiasannya bisa custom, jadi cocok banget buat hadiah spesial orang kesayangan. Dengan strategi pemasaran dan promosi yang agak maksa, akhirnya usahaku ini lumayan laris dikalangan temen-temen pastinya. Ada temen yang pesen buat dipakai sendiri ada juga yang pesen buat hadiah pacar. Jaman aku SMP kain flanel emang lagi hits, semua yang ada flanelnya itu unyu. Meskipun keuntungannya ga banyak-banyak banget, tapi rasanya bahagia banget, bisa punya uang karena usaha sendiri.
      Begitu masuk SMA, aku mulai nge-fans sama Angelina Joulie dan Tom Cruise. Bukan, aku bukan pengen jadi aktris, bukan. Aku ga suka jadi sesuatu yang bukan aku. Emang dasarnya ga bisa sih, jadi yaaa ngeles aja hehehe. Efek kebanyakan nonton film-film mereka, bikin aku pengen jadi agen rahasia. Kadang aku juga pengen jadi pembalap, karena banyak scene agen rahasia kejar-kejaran pake motor, mobil, atau bahkan pesawat. Fyi, padahal pas SMA aku belum bisa naik motor wqwqwq. Agen rahasia juga bisa jadi penembak jitu. Aku pernah coba belajar nembak pake senapan angin dan ternyata itu ga semudah yang aku bayangin. Untuk posisi pegang yang bener aja udah bikin pegel, belum lagi pas ngarahin bidikan senapannya, keliatannya udah pas, tapi ternyata tetep meleset hahaha. Agen rahasia yang misterius dan keliatan menguasai banyak hal keliatan keren banget di mataku saat itu. Serius deh, agen rahasia itu keren banget.
      Ketika SMA aku juga nge-fans sama Firra Basuki dan Oka Rusmini. Nah, kalo yang ini bikin aku pengen jadi penulis. Penulis yang dengan bangga menyajikan latar budaya Indonesia di setiap karyanya. Jujur aku emang tertarik untuk mengenal budaya kita lebih dalam. Budaya yang macem-macem itu bener-bener luarrrr biasa. Selain itu kata-kata Pramudya Anantatoer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." bikin aku makin pengen jadi penulis. Penulis itu keren. Keren banget.
      Cita-citaku yang lain semasa SMA adalah masuk Teknik Mesin UGM. Kok bisa kepikiran Teknik Mesin UGM? Biarlah awal aku bisa kepikiran Teknik Mesin UGM aku simpan sendiri #yanginikoleksipribadi. Alasan aku pengen lanjut di Teknik Mesin sederhana sih, kayak cita-cita ku yang lain. Dulu aku kira belajar di Teknik Mesin UGM asik dan bisa bergabung jadi Teknik Mesin 2012 itu keren, keren banget. Menarikkk.
      Begitu masuk kuliah, aku liat banyak banget hal-hal baru yang menarik. Offshore, Pipeline Engineer, bikin pesawat jet atau bahkan roket, bikin senjata tembak-tembakan, jadi astrounout..

      Semakin kita lihat banyak hal, semakin banyak hal-hal baru yang kita coba, semakin banyak hal yang keliatan keren. Semakin banyak pilihan yang kita punya, semakin lama kita menentukan pilihan. Kecuali, kalau kita sudah mempunyai suatu tujuan yang ingin dicapai dan membuat dia bukan lagi pilihan. Duh ngantuk, maaf out of topic, tapi serius deh aku ngantuk.
      Pokoknya, ini semua karena pertanyaan sederhana “Habis kuliah mau ngapain?”
Juga karena pernyataan “Kemaren aku abis liat video seniorku, sekarang dia keren deh. Keren banget. Aku pengen deh jadi keren gitu tapi aku harus ngapain ya biar bisa keren gitu? Kayaknya udah lama banget di dunia kok masih gini-gini aja..”


      Well, lakuin apapun yang kamu mau, jadi apapun yang kamu pengen, selama kamu tau pasti apa tujuanmu, mau muter-muter kayak apa juga bakal bisa sampai, terus berjuang dan tetap semangat!
Btw, setiap orang pasti punya cerita dan perjuangannya sendiri. Semua orang, saat ini, ditempat mereka masing-masing juga sedang berjuang. Kita semua sedang sama-sama berjuang. Semua orang sedang menghadapi sesuatu. Jadi jangan banyak mengeluh, kamu tidak sendirian, semua juga begitu. Jadi jangan cemberut lama-lama, ambil ranselmu, dan lanjutkan perjalanan untuk menyiapkan bekal. Senyumnya mana? J

      Sebenernya inti dari tulisan ini yang bagian akhir aja. Tapi kalo udah terlanjur baca dari awal yaudah yaw. Tetep mangatsemangat~~  Oiya, ini bukan lanjutan fiksi mini yang udah hampir setahun hanya wacana tak terealisasi sampai lupa ide awalnya gimana wqwqwq. Ini hanya curahan hati tian yang akhir-akhir ini sering galau tentang masa depan kita berdua. Next time nge-share cerpen yang lain deh ya mwiwiwiw :3

Jumat, 01 Januari 2016

Tersesat

Oleh: Ochistiar

Aku kehilangan porosku
Aku tidak bisa berputar seperti biasanya lagi
Aku tidak tahu lagi apa yang aku ingin
Aku tidak mengerti lagi tentang target-target yang biasanya kubuat
Aku tersesat,
tak tahu arah
Aku kehilangan,
kebebasan.

Tunggu..
Sebentar..
Kemudian aku berpikir,
bagaimana bisa aku kehilangan kebebasan ketika aku masih bisa berpikir.
Aku tahu kalau aku tersesat, pikiranku berkata begitu.
Tetapi bagaimana aku tahu aku kehilangan kebebasan, ketika bahkan pikiranku masih bebas mengatakan kalau aku tersesat.
Kenapa harus tersesat? Kenapa harus kehilangan?
Kenapa pikiranku memilih untuk mengatakan itu?
Bisa saja pikiranku mengatakan aku tidak tersesat,
toh aku tidak suka tersesat, apalagi kehilangan.
Tetapi mengapa pikiranku memilih untuk mengatakannya?
Apakah dia lelah? Pikiranku memang tidak pernah bisa beristirahat.
Mengapa dia justru mengatakan sesuatu yang tidak aku suka?
Apakah dia sudah menyerah? Menyerah pada keadaan?
Mengapa harus menyerah, ketika bahkan hatiku masih membara oleh api semangat?
Aku tidak tersesat, hanya melewati jalan lain saja
Aku tidak kehilangan kebebasan, karena aku masih bisa memilih untuk tidak tersesat
Ketika aku memiliki berjuta alasan untuk tersesat
Aku percaya, bahwa mempunyai pikiran tersesat dan kehilangan adalah bagian dari perjalanku mencapai tujuan.

Aku percaya, bahwa jalan ini pun bisa membawaku pada tujuan

Yogyakarta, 26 Desember 2015


Hari ini, hari pertama di tahun 2016. Tahun lalu, hari pertamaku di tahun 2015, aku habiskan bersama keluarga. Mulai dari malam sebelum tahun berganti hingga malam di hari pertama tahun 2015. 
Hari itu tidak terasa istimewa. Berkumpul, makan, jalan-jalan, mengobrol bersama keluarga terasa biasa. Ya, seperti biasanya. Siapa sangka, hari ini aku merindukannya. Merasa saat-saat itu sangatlah istimewa dan berharga.

Aku rindu hal-hal kecil manis, sesederhana sms Ayah,
"Mba, kalo keluar malem pake jaket ya"
atau
"Mba, jangan lupa makan jaga kesehatan ya"
atau
"Kalo ada apa-apa cepat kabari Ayah ya"
atau
"Mba, jangan lupa sholat"
Banyak nikmat luar biasa yang baru dimengerti istimewanya ketika masa nya sudah terlewati

tian kangen ayah...

Berkali-kali suara "banyak hal yang udah berubah" atau "ini terlalu berat" muncul, 
tetapi mereka selalu kalah dengan kepercayaan dari hati kalau aku pasti bisa,
kalau ini hanyalah suatu pos yang harus dilewati dan nantinya akan terlewati.
Karena aku percaya, aku tidak berjalan sendirian, ada Allah :)
Ayah, tetep semangat, biar cepet sembuh, biar kita bisa jalan-jalan bareng lagi.
Salam sayang dari tian..

Sabtu, 27 Desember 2014

Surat Perpisahan

Karya : Ochistiar



Sat, 23 Nov at 9:33 
From: Fiksi Mini to you


Halo, apakah kamu masih suka melihat langit? Kalau kamu masih suka, biarkanlah aku menjadi wanita yang berdiri di bulan atau melesat jauh setinggi bintang atau berpijar seterang matahari atau sekedar menjelma sebagai awan yang melindungimu dari terik mentari, supaya kamu selalu melihat aku, kemudian mengingat kita.

Bagaimana kabarmu? Aku harap sehat selalu ragamu, pun tangguh jiwamu, dengan bahagia senantiasa menemanimu di musim apapun. Surat ini aku tulis dengan seluruh ketulusan yang aku miliki. Dengan kerendahan hati meminta sedikit waktumu untuk membacanya. Aku tau, waktu adalah pemberian yang sangat berharga sebab sedikit waktu ini adalah bagian dari hidumpu yang luar biasa. Jadi aku sangat menghargainya.

Setelah surat ini aku tidak akan meminta waktumu lagi, aku juga tidak akan mempertanyakan keberadaanmu lagi, aku tidak akan memaksamu berhenti main game hanya untuk melakukan apa yang aku mau, aku pun tidak akan meminta maaf seperti pesan singkatku yang terakhir kali.
Lewat surat ini, aku hanya ingin berterimakasih untuk hal-hal kecil manis yang telah kita lewati, cerita pendek yang akan kusimpan rapi di memoriku selamanya.

Tanpa aku sadari kamu telah menjadi bagian penting dari suatu fase hidupku, terimakasih.  Sudah jauh-jauh membawaku keluar dari sudut pandangku untuk melihat dari sisi yang lain, terimakasih. Telah mengundang senyum serta tawa dari bibirku, terimakasih. Bersedia pergi ketika aku meminta kamu untuk pergi, terimakasih. Kamu luar biasa.

Rasanya aneh memanggil apa yang kita pilih sendiri sebagai penyesalan. Aku tidak menyesal. Aku juga tidak ingin memutar waktu, tidak bisa. Aku bukan Dr. Alexander Hartdegen yang membuat mesin waktu untuk menyelamatkan Emma, kekasihnya. Bahkan, dengan mesin waktu sekalipun, Alexander Hatdegen tidak mampu merubah keadaan bahwa Emma meninggal. Karena segala yang telah terlewati akan tetap begitu kisahnya. Namun aku mengakui tidak semua keputusan yang kita pilih itu benar, adakalanya kita membuat keputusan, kita membuat kesalahan, itulah hidup.

Sekali lagi aku ucapkan terimakasih. Aku selalu berdoa semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukmu, pun itu yang terindah buatmu. Selamat berlari hingga terbang mengejar bintang-bintang di langit malam. Kamu percaya takdir? Jangan lupa petik satu bintang untukku.


Reply


  
*Ceritanya tian lagi latihan nulis, rencananya setiap Sabtu bakalan nge-post Fiksi Mini bersambung.*
*Semoga bukan cuma wacana, Semoga bisa dinikmati ya :)*

Senin, 21 April 2014

Terdiam
Katya : Ochistiar



Masing-masing pikiran kami berlarian kesana-kemari. Menyusun kata demi kata anak tangga kalimat untuk turun hingga memperdengarkan suara. Menyampaikan isi pikiranku, pada orang yang duduk disisi kanan. Orang disisi kanan pun membisu jua, kami sama-sama menunggu.

Dingin AC, sayup-sayup mulai menyapa sekeliling kami dan kami masih dibalut sepi. Sofa putih ini ternyata cukup luas untuk sekedar menampung kami berdua, bersama kertas-kertasnya dan kertasku berhamburan dimana-mana memenuhi bagian sofa yang kosong, tetapi sunyi masih mampu mengisi sela diantara kertas-kertas itu.

Aku menatap lembaran-lembaran yang seharusnya kubaca, tetapi pikiranku masihlah menyusun kata. Orang disisi kanan pun masih sibuk membaca diktatnya yang tebal. Namun sudah hampir sepuluh menit tak kunjung berganti halaman, aku tak yakin pikirannya masih disana. Sebentar kemudian, kulihat dia menatap map kuning tembus pandang milikku. Sedikit menengok, berharap ada sepotong kata yang keluar dari bibirnya. Tak satupun.

Mulai bosan oleh hening, kurubah-ubah posisi duduk sesuka hatiku. Miring ke kanan, ke kiri, meluruskan kaki kedepan, duduk sila, bersandar, tanpa bersandar, semua posisi telah kucoba, tetapi rasanya belum puas juga hati ini. Karena yang aku mau hanyalah memecah kesunyian ini, menghadirkan cerita mengundang tawa. Karena yang sesungguhnya aku ingin hanyalah meluapkan pemikiran, mengisahkan kejujuran rasa.

Merubah posisi-posisi duduk, menyebabkan spidol warna-warniku yang turut mengisi sofa, menggelinding tak tentu arah. Orang disisi kanan bangkit memunguti spidol warna-warni itu dan serta-merta memasukkannya ke map kuning tembus pandang milikku. Tanpa bertanya, tanpa berkata, masih dalam diam.

Tak langsung membuka diktatnya yang tak sengaja tertutup, orang disisi kanan malah memandang lurus kedapan. Lama. Sempat aku menoleh beberapa kali dan tatapannya masih lurus kedepan. Aku tak benar-benar yakin dengan apa yang sedang diperhatikannya. Ruangan ini kosong hanya terisi sofa, kami, dan sepi. Sampai akhirnya orang disisi kanan memasukkan diktat dan kertas-kertas lain miliknya kedalam tas ransel hitam kesayangannya. Kemudian beranjak pergi. Meninggalkanku sendiri..

Aku masih terduduk dan tak tahu harus berbuat apa. Orang disisi kanan pergi membawa semua mimpi serta harapan yang pernah kumiliki. Orang disisi kanan hanya menyisakan sepi dan sunyi yang sedari tadi mengisi ruangan ini. Menghadirkan banyak tanya dalam benakku. 

Pikiranku semakin disibukkan dengan kenyataan baru, bahwa dia pergi menyisakan sepi. Mungkin inilah jawaban dari susunan kata yang sedaritadi berputar-putar didalam pikiranku. Mungkin dia bisa mendengar kata-kata yang telah aku susun. Mungkin pikiran kami bisa berkomunikasi dengan baik dalam diam. Mungkin dengan aku menyampaikannya dalam sunyi dia pun menjawabnya dengan sepi. Atau mungkin, dia hanya tidak ingin menghabiskan waktu denganku. Tidak ingin bersamaku. Perlahan aku kuatkan tanganku untuk membereskan kertas-kertas yang masih berserakan di sofa. Menyusunnya perlahan, hingga mampu dimasukkan ke map kuning tembus pandang dengan rapi.

Satu menit, dua menit, tiga menit, aku masih terdiam dengan kertas-kertas di tangan kananku, tak berkedip memandangi map kuning tembus pandang milikku. Disana, terdapat kertas yang tak kusangka-sangka masih ada disana. Goresan tinta dari orang di masa lalu, namanya terukir dengan apik, bersangkar indah cerita masa lampau. Namun, itu hanyalah kenangan yang mampu menghadirkan senyum dan tangis ketika mengingatnya.

Seketika itu juga, aku teringat orang disisi kanan yang tetiba pergi. Orang disisi kanan, yang mengisi hatiku kini..

Rabu, 02 April 2014

Beberapa hari yang lalu..


Beberapa hari yang lalu aku menyempatkan waktu untuk pulang ke rumah, menengok Ayah. Sepertihalnya kepulanganku sebelum-sebelumnya, malam itu hingga pagi kuhabiskan menemani Ibu berbincang mengenai berbagai hal. Awalnya Ibu yang bercerita macam-macam, tentang Ayah, Zahir, serta kegiatannya yang lain. Kemudian Aku bercerita banyak hal, tentang kuliahku, hal-hal yang telah kucoba, hingga mimpi-mimpiku. Sampai akhirnya, aku mengeluarkan suatu pertanyaan..

"Bu, akhir-akhir ini aku bosen sama hidupku. Kok kayaknya gitu-gitu aja. Bangun pagi, balik kosan udah malem, langsung tidur, gitu-gitu aja.. Gimana ya biar nggak bosen? Mana rasanya capek banget sama rutinitas yang itu-itu aja. Mungkin kerasa capek karena bosennya itu. Gimana ya biar pas bosen nggak bikin capek?"

"Coba setiap bangun pagi, niatkan semua agendamu hari itu karena Allah, dan untuk Allah"

Sederhana. Tapi, terdengar sangat menenangkan.
Membuat semuanya terlihat jadi lebih mudah untuk dilalui, karena bersama Allah.
Serta tidak sia-sia untuk dikerjakan, sebab, untuk Allah.

Jumat, 07 Maret 2014

Sepenggal Perjalanan



  Karya : Ochistiar
...
Mungkin inilah keterbatasanku
Belum mampu menyulam senyum
ketika berada di dekatmu dengan hati berjarak
Jadi, baiknya begini
Masing-masing kita mengejar apa yang masing-masing kita cita kan
Semoga bahagia senantiasa menemani setiap langkahmu, pun langkahku
Jangan sampai kamu membuatku berhenti
Aku, tak akan membuatmu berhenti
Sehingga pada akhirnya,
Kita sampai pada masing-masing tujuan

...
Dan aku tetap akan memilih lajurku sendiri
Menggambar impianku secara semena-mena
Menulis berlembar-lembar kisah dengan rima semangat menggapai cita
Biarkanlah jiwa yang haus akan pencapaian ini, mengejar angan penghilang dahaga
Semerta-merta membawa mimpi pada kenyataan
Mungkin sesekali kita akan berpapasan atau bahkan bersilangan jalur
Hingga, jika kita memang akan bersama,
berada di jalur dan menuju tujuan yang sama, maka kita akan bersama
Jika tidak, kamu adalah hal terindah di perjalanku
Ini kataku yang sekarang,
mungkin akan sedikit berbeda ketika aku sudah harus mengabdi pada imamku



*potongan puisi “Perjalanan"* 



25 Februari 2014
kamar kos

Sabtu, 11 Januari 2014

Mungkin Benar Adanya

Karya : Ochistiar

Mungkin benar adanya,
setiap insan mempunyai titik baliknya masing-masing.
Titik yang merubahnya
ke arah lebih baik maupun sebaliknya.
Titik yang mampu membuatnya
menentukan pilihan,
mengambil sikap,
mendekat pada tujuan.


Mungkin benar adanya,
setiap orang memiliki kepercayaan.
Kepercayaan yang seiring berjalannya waktu
mengantarkannya pada pintu takdir.


Mungkin benar adanya,
setiap manusia memiliki rumah.
Rumah tempat kembali
di pertengahan ketika ingin sekedar singgah
kemudian pergi
Meski pada akhirnya,
disanalah tujuan pulang.


Kisah yang bertumpu pada kebenaran,
jalan yang semata-mata menuju kebaikan,
tidak akan sia-sia.
Bukankah ini menjaga yang sesungguhnya?
Aku percaya.


Terimakasih, telah menjadi ikhtisar dari tiga yang mungkin benar adanya.
Titik balik, kepercayaan, rumah,
dan Aku percaya.


11 Januari 2014
23.18-23.44

Rabu, 18 September 2013

Iya. Iya-in aja ya. :3




Ruangan terisi sepi. Makanan belum juga datang, semua masih mematung di tempat masing-masing..

Andai engkau tahu betapa ku mencinta
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya

Suara mas Afgan mengisi sunyi diantara kami yang sibuk dengan telepon genggam masing-masing. Awalnya kami masih cuek, namun ketika lagu memasuki bagian reff:

Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu

Pembicaran menelaah suatu fase kehidupan dimulai dari sana. Dari senandung mas Afgan, “Jodoh pasti bertemuu”.

     Iya, jodoh pasti bertemu, tapi yang dipertemukan dengan kita itu belum tentu jodoh. Get it? Jadi kalo kamu tetiba dipertemukan lagi sama ‘seseorang’ yang pernah istimewa, ya gausah seneng dulu. Siapa tau, maksud Tuhan mempertemukan kalian lagi supaya kamu bisa liat dengan mata kepala sendiri kalo dia udah bahagia bersama yang lain. Siapa tau? Atau mungkin Tuhan pengen bikin kita sadar, kalo kita harus berhenti nungguin dia, berhenti berharap. Siapa tau?

     Kalo misalpun kita udah dipertemukan, udah sama-sama tau kalo saling sayang. Siapa yang bisa jamin kita bakal nikah dan hidup bahagia selamanya sama orang itu? Mau langsung nikah? Kalo aku pribadi belum siap mental, belum siap dapet tanggung jawab untuk hal-hal begituan. Aku masih 18 tahun, masih banyak yang pengen aku lakuin tanpa harus minta izin ke-orang-yang-dipanggil-suami. Yakali -_-“ Temenku yang hampir 20 tahun aja masih merasa belum saatnya mikirin hal itu wkwkw.

     Kemudian terlintas suatu pemikiran. Mungkin ga sih, kalo yang kita panggil jodoh itu, orang yang bersama kita atau dateng ke kita, disaat kita emang udah waktunya nikah. Ya, kalo udah saat nya, yang ada pada “saat” itu?

      Bagaimana dengan sayang? Kalo kita masih sayang sama orang yang ga ada pada “saat” itu gimana? Masa kita nikah sama orang yang ga kita sayang? Sisa hidupnya, cuma diisi bersama partner tanpa pake hati? Hambar gitu dong, ga asik, nanti malah bosen :/

      Bagaimana dengan belajar menyayangi? Belajar menyayangi orang yang sayang ke kita. Karena dalam kasus cinta yang bertepuk sebelah tangan, lebih tidak menyakitkan apabila kita berada dalam posisi disayangi. Apalagi bila kita mencoba melihat bahwa kemungkinan disakiti sama orang yang sayang kita itu lebih kecil daripada kemungkinan disakiti sama orang yang kita sayang. Iya apa iya? Jadi sebenarnya di lubuk hati terdalam, kami tidak ingin merasa sakit. Emang ada gitu orang yang pengen sakit? Aku rasa ga ada. Terkecuali orang yang sedang dibutakan cinta. Jangan bego-bego amat plis. Bego kelamaan juga bikin capek loh.. #kemudiancurhat

Oke, ini malah ngelantur kemana-mana. Jadi kesimpulannya,

  • Jodoh pasti bertemu, tapi yang dipertemukan dengan kita itu belum tentu jodoh.
  • Jodoh itu, orang yang bersama kita atau dateng ke kita, disaat kita emang udah waktunya nikah. Kapan itu 'waktunya nikah'? Hanya Tuhan yang tau..
  •  Kemungkinan disakiti sama orang yang sayang kita itu lebih kecil daripada kemungkinan disakiti sama orang yang kita sayang.



Ahahahahahaha ini cuma kesimpulan dari dua cewek yang lagi galau dan ga pengen sakit hati (lagi) kok. Jangan dipikirin serius-serius, nanti pusing sendiri. Karena kita sebagai cewek biasanya cuma bisa nunggu. Nunggu, tapi sebisa mungkin jangan ngarep. Ntar sakit loooh hahaha. Kalo di agamaku bilang, “ Orang baik jodohnya juga orang baik.” Yaudah, kalo pengen dapet jodoh yang baik ya jadi orang baik. That simple! :)