Random

Mereka bicara seolah sudah pernah berada di situasi dan kondisi ini. Seperti pernah menjadi aku. Kenyataannya,tidak ada yang pernah menjadi aku kecuali aku sendiri. Ya,cuma aku yang pernah jadi aku. Jadi kesimpulannya,akulah yang paling mengerti aku.

Aku percaya,setiap kata punya banyak makna. Banyak hal bisa mempengaruhi makna dari kata tersebut. Intonasi,situasi,kondisi,siapa yang mengatakannya,ditujukan ke siapa,banyak hal. Setiap kata bisa jadi suatu sihir buat orang tertentu yang mungkin punya kenangan di balik kata itu.

Kata yang sama sekali tidak menyakitkan bisa menyebabkan tangis. Kata yang dianggap lucu malah membuat orang merinding. Kata yang terdengar kasar bisa jadi menyebabkan tawa tak henti. Siapa tau?

Ada saat dimana kita tidak bisa melihat sesuatu dengan mata. Sesuatu itu harus dilihat dengan hati dan saat hati mulai subjektif saat itulah timbul ragu. Mengartikan orang kedalam kata tidaklah mudah. Saat mata tak mampu membedakan mana yang sesungguhnya,tiruan,atau palsu. Saat kata yang terlanjur terdengar menjadi ambigu.

Akankah kita tetap polos di tengah kepalsuan. Menjaga hati tetap suci diantara dusta yang terumbar. Menjadi bola permainan yang dilempar sana-sini. Mempercayai banyak hal dan menganggap kepalsuan suatu yang biasa,seperti tak punya hati.

Perlukah kita selalu berpikir jeleknya. Tidak mempercayai siapapun kecuali tuhan. Berdiri sendiri melawan arus. Tetap kokoh menentang ombak.

Normal. Seperti apakah yang normal itu? Bukankah normal itu kita yang ciptakan? Mengaggap baik buruk? Kita juga kan.

Kita yang memilih meski tak semua hal kita dapat memilih. Banyak hal harus kita terima jadi. Bukan lari,tetapi hadapi sesuatu yang memang pasti terjadi. Sesuatu yang tidak bisa kita pilih untuk tinggalkan.

Komentar