Selasa, 25 September 2012

Bayangmu

Siang ini awan berkumpul di langit,bersekongkol, menutupi penghuni bumi dari sinar matahari yang terik. Membuat siang ini tampak teduh,namun sedikit suram. Ketika angin datang seraya membelai lembut pipi ini aku teringat olehmu. Apalagi dari tempatku duduk kini,tampak daun-daun coklat yang berjatuhan disapa angin. Siang ini,mirip siang itu.

Aku telah pergi baratus-ratus kilometer menjauhi dirimu dengan maksud membuang ingatan tentangmu. Tapi,keadaan sederhana ini mengingatkanku kembali akan adamu. Melupakanmu ternyata tidaklah sederhana. Butuh berjuta-juta kata untuk mengartikan perasaan ini ke dalam tulisan.
Aku sempat terpaku,terdiam,memandang keadaan ini. Kenapa kalian mengingatkanku tentangnya? Aku masih bergeming. Bayangmulah yang muncul diantara daun-daun coklat itu. Tersenyum ke arahku,senyum yang kulihat diakhir pertemuan terakhir kita. Aku masih tak bergerak,memandang kosong ke arah bayangmu. Janganlah pergi,tetaplah disini bersamaku. Temani aku menjalani hari,bagilah senyum hangat yang senantiasa menghiasi wajahmu untukku. 

Tampaknya langit tak ingin membuatku berlarut-larut mengingatmu. Perlahan, titik-titik air berjatuhan ke bumi. Membasahi daun-daun coklat yang mengingatkanku tentangmu. Tumpahan air semakin deras,menyiram pepohonan dan membasahi tanah berdebu di sekitarnya. Membuat aroma tanah yang khas muncul dan bayangmu? Dimana bayangmu? Bayangmu menghilang. Hujan,mengapa kau membuatnya pergi? Aku ingin lebih lama bersamanya. Bawalah aku bersamamu,aku akan mengikutimu kemanapun kamu membawa aku pergi. Jangan tinggalkan aku!
                  “Ayo masuk ke dalem,hujannya makin deres.”
Aku menoleh dengan cepat. Bukan! Itu bukan dirimu!

Aku sadar. Melihatnya membawaku kembali ke dunia nyata. Hanya dia yang sekarang disini. Dia yang menemaniku menjalani hari,memberikanku senyum semangat miliknya.  Kamu? Kamu sudah pergi seiring menghilangnya bayang ditutup hujan. Selamat jalan,aku disini telah bahagia.