Kamis, 25 Oktober 2012

Surat Kecil untuk Bengbengers

Teruntuk,
Bengbengers yang tersayang

Hai bengbengers!  Bagaimana kehidupan kalian sekarang? Aku sangat merindukan kita.

Bengbengers,ingatkah kalian akan sejarah nama itu? Nama yang menaungi kita semua menjadi satu,Bengbengers. Kita dan kantin yang tadinya kufikir tak akan terpisahkan,tetapi ternyata kelulusan berkata lain. Kita duduk lengkap satu meja,sempit,tetapi tak pernah sepi canda dan tawa. Ingatkah kalian? Hari-hari disaat kita selalu bertemu,tetapi tak pernah merasa bosan. Karena selalu ada cerita-cerita baru yang entah darimana munculnya. Senyum,tawa,tangis,kita,bersama.

Aku rindu saat dimana kita membicarakan banyak hal yang tidak akan selesai kecuali dihentikan bel masuk atau langit yang berubah gelap.
Aku rindu saat dimana kita menonton film bersama di B-9ku, kegiatan kesukaanku. Membicarakan tokohnya yang menurut kita ganteng berhari-hari setelahnya.
Aku rindu kita duduk dibawah karetan,sekedar untuk melihat orang berlalu-lalang. Menunggu orang teristimewa masing-masing kita saat itu untuk lewat,itu tak pernah membosankan.
Aku rindu saat kita membolos pelajaran untuk menghabiskan waktu di perpus. Mengganggu Mas Dodo,yang menurut salah satu dari kita dia cakep. Membaca majalah,mengobrol,atau hanya tidur-tiduran.
Aku rindu saat kita duduk bersama di kantin,berebut duduk disisi terluar,supaya bisa melihat orang teristimewa kita masing-masing. Makan mie ayam Cak Kasno,ayam penyet Mba Ira,atau hanya ditemani beng-beng,jajan favorit kita..

Kita tanpa Syifa & Arum,di pintu selatan sekolah tercinta,Padmanaba. Reuni #1 hampir lengkap.   


Bengbengers,Aku ada segores puisi tentang Kita...

Teman,
mungkin kita bukan artis terkenal ,
yang banyak mengenal dan dikenal,
yang tersenyum ditengah kepalsuan
Kita hanyalah sekumpulan yang mampu menjadikan segala hal
alasan untuk tersenyum,
tersenyum bahagia
Bahagia karena bersama-sama
Kita hanyalah anak-anak yang haus akan pengalaman
yang sangat mengenal satu sama lain
Kebersamaan telah membuka jati diri kita sesungguhnya
Bersama-sama kurasa cukup,
cukup begini saja,
tak butuh lagi terkenal
Mengenal banyak tapi dangal penuh kepalsuan,
cukup begini saja,
mengenal beberapa dengan dalam penuh kenyataan
9 Juni 2012,Kamar

Dari,
tian yang sangat menyayangi kalian

Selasa, 23 Oktober 2012

Ayah

Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi
Serta harapanmu
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu
Yang Terbaik Bagimu- Ada Band


Ayah,
Mungkin Aku sudah lupa bagaimana pertama kali Kau menggendongku
Mungkin Aku sudah lupa pertama kali Aku mampu memanggilmu dengan kata yang jelas “Ayah
Tetapi,Aku masih ingat Ayah,
Ketika Ayah bersepeda dengan Aku duduk didepan,kegiatan sore yang paling aku tunggu-tunggu
Ketika Ayah memelukku disaat aku mulai mengenal hidup,untuk menguatkanku

Ayah,
Aku tidak pernah mendengarmu mengeluh tentang hidup
Meski aku tau pasti,ada di posisimu tidak mudah
Engkau tidak suka di kasihani,aku tau itu Ayah
Aku tidak mengasihanimu,Aku kagum


Ayah,
Masih teringat jelas kata-katamu sore itu
Kata-kata itu selalu mampu membuatku bertahan

Ayah,
Ternyata hidup tidak sesederhana di pikiranku dulu
Tetapi,kau yakinkan Aku bahwa Aku kuat untuk itu
Cukup kuat untuk tidak mengeluh,
Cukup tegar untuk tetap tersenyum,bagaimanapun keadaannya
Cukup ikhlas untuk menerima
Cukup berani untuk bermimpi
Cukup tangguh untuk mencapai semua yang kuinginkan

Ayah,terimakasih,telah mengenalkanku pada banyak hal. Sehingga aku mampu bertahan kapanpun,dimanapun.

Selasa, 02 Oktober 2012

Satria


           Satria berarti prajurit yang berani. Dalam kebudayaan jawa satria menunjukan kasta bangsawan, prajurit atau orang yang baik hati, jujur dan gagah berani. Menjadi seorang satria haruslah memiliki kecakapan yang sebanding dengan apa yang disandangnya. Harkat dan martabat dipertaruhkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai yang mendominasi orang itu. Satria memunculkan citarasa yang membenamkan hakikat manusia bermartabat, berbudaya, dan berperadaban.

Itulah pengertian satria yang aku baca.

 ****
  
          Jiwa nya mencerminkan nama itu. Satria. Aku melihatnya,bukan dengan pandangan sekilas atau lirikan sebelah mata. Aku melihatnya, perlahan seiring kumengenalnya. Kutemukan sosok itu. Satria. Aku tidak merasa terlalu cepat untuk menyimpulkan.   Sebab jarak ditengah pergantian detik dengan menit semakin membuatnya terlihat sebagai seorang satria.

          Berawal dari ketidaksengajaan dan permainan konyol yang ada diantara aku dan kawanku. Aku melihatmu sangat membosankan dan tidak ada salahnya memasukkanmu dalam permainan kami. Ketidaksengajaan itulah yang membuatku mengenalmu lebih..

Beberapa minggu yang lalu....

          Aku melihatmu sebagai pribadi yang membosankan. Kehidupan yang membosankan. Sesuatu yang tidak menarik untukku. 

Dan sekarang....

          Aku melihatmu sebagai sosok yang istimewa. Hidupmu memiliki tujuan yang jelas. Apa yang kamu lakukan semata-mata untuk semain dekat pada tujuanmu. Semua memiliki alasan yang jelas dan pasti. Keseimbangan hidup milikmu adalah hal-hal penunjang menuju impianmu. Tidak ada yang sia-sia. Semua yang kamu lakukan berarti. 

Sejauh ini,itulah yang kulihat...

          Menarik,buatku itu semua menarik. Menemukanmu,mengajakku menilik kembali sebuah idealitas yang sudah lama terlupa,tersembunyi di laci-laci sesak penuh mimpi . Melihatmu,mengingatkanku kembali akan sebuah tujuan akhir. Mengenalmu,membawaku menuju keseimbangan hidup yang sesungguhnya. Terimakasih.