Senin, 21 April 2014

Terdiam
Katya : Ochistiar



Masing-masing pikiran kami berlarian kesana-kemari. Menyusun kata demi kata anak tangga kalimat untuk turun hingga memperdengarkan suara. Menyampaikan isi pikiranku, pada orang yang duduk disisi kanan. Orang disisi kanan pun membisu jua, kami sama-sama menunggu.

Dingin AC, sayup-sayup mulai menyapa sekeliling kami dan kami masih dibalut sepi. Sofa putih ini ternyata cukup luas untuk sekedar menampung kami berdua, bersama kertas-kertasnya dan kertasku berhamburan dimana-mana memenuhi bagian sofa yang kosong, tetapi sunyi masih mampu mengisi sela diantara kertas-kertas itu.

Aku menatap lembaran-lembaran yang seharusnya kubaca, tetapi pikiranku masihlah menyusun kata. Orang disisi kanan pun masih sibuk membaca diktatnya yang tebal. Namun sudah hampir sepuluh menit tak kunjung berganti halaman, aku tak yakin pikirannya masih disana. Sebentar kemudian, kulihat dia menatap map kuning tembus pandang milikku. Sedikit menengok, berharap ada sepotong kata yang keluar dari bibirnya. Tak satupun.

Mulai bosan oleh hening, kurubah-ubah posisi duduk sesuka hatiku. Miring ke kanan, ke kiri, meluruskan kaki kedepan, duduk sila, bersandar, tanpa bersandar, semua posisi telah kucoba, tetapi rasanya belum puas juga hati ini. Karena yang aku mau hanyalah memecah kesunyian ini, menghadirkan cerita mengundang tawa. Karena yang sesungguhnya aku ingin hanyalah meluapkan pemikiran, mengisahkan kejujuran rasa.

Merubah posisi-posisi duduk, menyebabkan spidol warna-warniku yang turut mengisi sofa, menggelinding tak tentu arah. Orang disisi kanan bangkit memunguti spidol warna-warni itu dan serta-merta memasukkannya ke map kuning tembus pandang milikku. Tanpa bertanya, tanpa berkata, masih dalam diam.

Tak langsung membuka diktatnya yang tak sengaja tertutup, orang disisi kanan malah memandang lurus kedapan. Lama. Sempat aku menoleh beberapa kali dan tatapannya masih lurus kedepan. Aku tak benar-benar yakin dengan apa yang sedang diperhatikannya. Ruangan ini kosong hanya terisi sofa, kami, dan sepi. Sampai akhirnya orang disisi kanan memasukkan diktat dan kertas-kertas lain miliknya kedalam tas ransel hitam kesayangannya. Kemudian beranjak pergi. Meninggalkanku sendiri..

Aku masih terduduk dan tak tahu harus berbuat apa. Orang disisi kanan pergi membawa semua mimpi serta harapan yang pernah kumiliki. Orang disisi kanan hanya menyisakan sepi dan sunyi yang sedari tadi mengisi ruangan ini. Menghadirkan banyak tanya dalam benakku. 

Pikiranku semakin disibukkan dengan kenyataan baru, bahwa dia pergi menyisakan sepi. Mungkin inilah jawaban dari susunan kata yang sedaritadi berputar-putar didalam pikiranku. Mungkin dia bisa mendengar kata-kata yang telah aku susun. Mungkin pikiran kami bisa berkomunikasi dengan baik dalam diam. Mungkin dengan aku menyampaikannya dalam sunyi dia pun menjawabnya dengan sepi. Atau mungkin, dia hanya tidak ingin menghabiskan waktu denganku. Tidak ingin bersamaku. Perlahan aku kuatkan tanganku untuk membereskan kertas-kertas yang masih berserakan di sofa. Menyusunnya perlahan, hingga mampu dimasukkan ke map kuning tembus pandang dengan rapi.

Satu menit, dua menit, tiga menit, aku masih terdiam dengan kertas-kertas di tangan kananku, tak berkedip memandangi map kuning tembus pandang milikku. Disana, terdapat kertas yang tak kusangka-sangka masih ada disana. Goresan tinta dari orang di masa lalu, namanya terukir dengan apik, bersangkar indah cerita masa lampau. Namun, itu hanyalah kenangan yang mampu menghadirkan senyum dan tangis ketika mengingatnya.

Seketika itu juga, aku teringat orang disisi kanan yang tetiba pergi. Orang disisi kanan, yang mengisi hatiku kini..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar