Jumat, 01 Januari 2016

Tersesat

Oleh: Ochistiar

Aku kehilangan porosku
Aku tidak bisa berputar seperti biasanya lagi
Aku tidak tahu lagi apa yang aku ingin
Aku tidak mengerti lagi tentang target-target yang biasanya kubuat
Aku tersesat,
tak tahu arah
Aku kehilangan,
kebebasan.

Tunggu..
Sebentar..
Kemudian aku berpikir,
bagaimana bisa aku kehilangan kebebasan ketika aku masih bisa berpikir.
Aku tahu kalau aku tersesat, pikiranku berkata begitu.
Tetapi bagaimana aku tahu aku kehilangan kebebasan, ketika bahkan pikiranku masih bebas mengatakan kalau aku tersesat.
Kenapa harus tersesat? Kenapa harus kehilangan?
Kenapa pikiranku memilih untuk mengatakan itu?
Bisa saja pikiranku mengatakan aku tidak tersesat,
toh aku tidak suka tersesat, apalagi kehilangan.
Tetapi mengapa pikiranku memilih untuk mengatakannya?
Apakah dia lelah? Pikiranku memang tidak pernah bisa beristirahat.
Mengapa dia justru mengatakan sesuatu yang tidak aku suka?
Apakah dia sudah menyerah? Menyerah pada keadaan?
Mengapa harus menyerah, ketika bahkan hatiku masih membara oleh api semangat?
Aku tidak tersesat, hanya melewati jalan lain saja
Aku tidak kehilangan kebebasan, karena aku masih bisa memilih untuk tidak tersesat
Ketika aku memiliki berjuta alasan untuk tersesat
Aku percaya, bahwa mempunyai pikiran tersesat dan kehilangan adalah bagian dari perjalanku mencapai tujuan.

Aku percaya, bahwa jalan ini pun bisa membawaku pada tujuan

Yogyakarta, 26 Desember 2015


Hari ini, hari pertama di tahun 2016. Tahun lalu, hari pertamaku di tahun 2015, aku habiskan bersama keluarga. Mulai dari malam sebelum tahun berganti hingga malam di hari pertama tahun 2015. 
Hari itu tidak terasa istimewa. Berkumpul, makan, jalan-jalan, mengobrol bersama keluarga terasa biasa. Ya, seperti biasanya. Siapa sangka, hari ini aku merindukannya. Merasa saat-saat itu sangatlah istimewa dan berharga.

Aku rindu hal-hal kecil manis, sesederhana sms Ayah,
"Mba, kalo keluar malem pake jaket ya"
atau
"Mba, jangan lupa makan jaga kesehatan ya"
atau
"Kalo ada apa-apa cepat kabari Ayah ya"
atau
"Mba, jangan lupa sholat"
Banyak nikmat luar biasa yang baru dimengerti istimewanya ketika masa nya sudah terlewati

tian kangen ayah...

Berkali-kali suara "banyak hal yang udah berubah" atau "ini terlalu berat" muncul, 
tetapi mereka selalu kalah dengan kepercayaan dari hati kalau aku pasti bisa,
kalau ini hanyalah suatu pos yang harus dilewati dan nantinya akan terlewati.
Karena aku percaya, aku tidak berjalan sendirian, ada Allah :)
Ayah, tetep semangat, biar cepet sembuh, biar kita bisa jalan-jalan bareng lagi.
Salam sayang dari tian..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar