Minggu, 27 Maret 2016

Obrolan Singkat

Karya : Ochistiar

15 Feb at 13.52
***Rak Sepatu start a new conversation with you***

“Kamu percaya takdir?”

“Eh?”

“Kalau apapun yang akan kita lewati dalam hidup ini sudah diatur..”

“Percaya, tapi bukan berarti kita tidak bisa memilih. Adakalanya takdir yang memilih kita, tapi ada masanya juga kita yang memilih takdir.”

“Pilihan. Masalahnya ada disana, pilihan hidup itu tidak seperti soal pilihan ganda yang sekali memilih langsung diketahui jawabannya. Pilihan hidup itu seperti percabangan yang punya anak cabang dan cucu cabang lainnya yang mampu memutar-mutar kita ke negeri entah berantah. Mungkin kalau kita memiliki semuanya dan tidak harus memilih ceritanya akan jadi lebih mudah.”

“Dari sekian banyak bintang di langit kita juga tidak bisa memetik semuanya bukan?  Kita hanya memiliki dua tangan. Untuk memetiknya saja sudah menguras tenaga, entah bagaimana cara merangkulnya. Manusia diharuskan memilih karena keterbatasannya. Manusia tidaklah sempurna hingga bisa memiliki segalanya. Lagipula, memiliki segalanya tidak menjamin kebahagiaan seseorang.”

“Kamu salah. Kalau manusia memiliki segalanya tentu manusia juga memiliki kebahagiaan. Segalanya. Termasuk kebahagiaan.”

“Selain tidak sempurna manusia memiliki sifat yang lain, serakah. Alih-alih berhasil membawa pulang semua bintang di langit, manusia justru tidak akan membawa apapun. Karena dia hanya sibuk berlari kesana kemari untuk menarik semua bintang sampai akhirnya terlalu lelah bahkan memetik satu bintangpun tidak mampu. Begitulah orang yang serakah, pada akhirnya justru tidak mendapatkan apa-apa.”

“Aku suka langit malam yang dipenuhi kerlip bintang ditemani cahaya bulan yang lembut dengan kamu disisiku tentunya dan aku tidak suka siang yang terik terlebih tanpa kamu. Aku sudah memilih bukan? Aku manusia yang tidak sempurna dan mencoba tidak serakah agar setidaknya aku tidak kehilangan satu bintang yang tidak ada duanya.”

“Tujuan. Asal kamu selalu mengingat tujuanmu, apapun yang kamu pilih akan menuntunmu pada tujuan. Seperti halnya kata orang, ada beribu jalan menuju Roma. Lagipula aku percaya takdir bukan hanya satu garis lurus, melainkan suatu ruang yang tersusun dari beribu garis. Sebab itu seringkali hikmah yang tersembunyi baru bisa terlihat ketika manusia itu melihat cerita secara keseluruhan.”

“Tujuan? Aku ingin jadi pembisnis. Supaya aku bisa leluasa menghabiskan waktu dengan keluarga.”

15 Feb at 14.09
***Fiksi Mini left the chat***


“Bukannya waktu untuk keluarga jadi lebih sedikit ya, jam kerja yang ga pasti, sering keluar kota, membangun relasi, juga ini-itu lainnya. Belum waktu buat nge-game-nya.”, mataku meninggalkan layar laptop, melanjutkan diskusi pikiran dengan John C. Maxwell, membahas bagaimana cara membangun relationship dengan manusia yang lain.

                  Harus kuaiku semuanya telah berbedaaa #ehmalahnyanyilagunyaRaisa, aku memang kurang bisa berbasa-basi dengan manusia lain. Ketika aku menyukai sesuatu maka aku akan bilang menyukainya, begitupun sebaliknya. Sederhana. Lagipula mengapa yang sederhana harus dibuat rumit? Masih tidak mengerti saja, untuk apa menunjukan apa yang tidak ingin kita tunjukan? Untuk apa mengatakan sesuatu secara cuma-cuma, sekedar menyenangkan hati orang lain katanya. Apakah kata-kata yang tidak tulus itu terdengar menyenangkan?

“Oke-oke, memang kamu pengennya aku gimana?”
 Sedikit menoleh, tanpa meninggalkan John C. Maxwell sendirian, “Kenapa tanya aku? Itu impianmu, kamu bebas menentukan apa yang kamu ingin dalam hidup. Aku tidak akan membuatmu berhenti. Kamu juga jangan membuat aku berhenti”.

“Memang apa impianmu?”

“Makan siomay Kang Cepot sekarang!”, dengan semangat kumasukan buku-bukuku kedalam tas ransel coklat kulit yang sedari tadi terkapar di lantai samping kursi Raka.

“Impianmu sederhana banget, Fi.”

“Semua yang besar dimulai dari sesuatu yang sederhana. Lagian aku udah 3 jam nungguin kamu nge-game. Gimana aku ga kelaperan coba”, kudorong badan Raka sedikit supaya lebih cepat meninggalkan ruangan.

“Itu kamu paham, kalo nunggu itu ga enak..”, gumam Raka.
              Langkahku terhenti. Aku menoleh pada sahabat di sampingku. Aku tahu pasti, menunggu itu memang tidak menyenangkan. Oleh sebab itu aku tidak pernah datang lebih awal, karena aku tidak ingin menunggu, sebisa mungkin aku datang tepat pada waktunya, sederhana. Ada potongan sajak tentang menunggu milik Tere Liye yang aku suka..


“ Bukankah,
  banyak yang berharap jawaban dari seseorang?
  yang sayangnya, yang diharapkan bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya.

  Bukankah,
  banyak yang menanti penjelasan dari seseorang?
  yang sayangnya, yang dinanti bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa.

  Bukankah,
  banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang
  yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji”





--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Finally bisa nge-post lanjutan fiksi mini yang udah kapan taun itu ekekeke :v

Ps : Rencananya bagian awal mau dibikin ala-ala Yahoo Messenger gitu. Tapi ternyata aku udah lupa notif awal dan akhir chatting di Ym! kayak apa hehehe. Dulu sebelum aplikasi chat merajalela kayak sekarang, aku sering banget pake Ym! buat ngobrol sama temen-temen. Bisa chat personal, bisa juga chat rame-rame. Kangen Ym!-an wkwkw